SEKOLAH MINGGU

SEKOLAH MINGGU: BELUM JADI PENDIDIKAN BERBASIS KOMPETENSI

Sekolah Minggu yang merupakan wadah pembinaan anak-anak di gereja Kristen masih belum menjadi wahana pengkaderan umat yang berkompeten. Padahal Sekolah Minggu sangat strategis untuk mempersiapkan para pemimpin Kristen masa depan.

Pendidikan Kristen (Christian Education) didefinisikan oleh Graendorf (1981) sebagai berikut: Christian Education (CE) is a Bible-based Holy Spirit-empowered (Christ-centered) teaching learning process that seeks to guide individual at all levels of growth through contemporary teaching means toward knowing an experiencing God’s purpose and plan through Christ in every aspect of living, and to equip them for effective ministry, with the overall focus on Christ the Master Educator’s Example and Command to make mature disciples.

Menurut definisi di atas, PAK (Christian Education) jelas merupakan pendidikan berbasis kompetensi. Ada dua kompetensi (standar kompetensi) yang ditargetkan dalam PAK itu: (1) dengan mengikuti PAK, murid diharapkan memiliki kecakapan untuk memahami dan mengalami rencana dan kehendak Tuhan dalam setiap aspek hidup mereka, (2) murid memiliki kecakapan untuk melakukan pelayanan secara efektif. Kompetensi-kompetensi itu dijelaskan dalam dimensi fungsional dari PAK.

Sekolah Minggu sebagai program PAK untuk jemaat kategori anak-anak juga harus merupakan PAK sebagai pendidikan berbasis kompetensi. Kecakapan-kecakapan yang dihasilkan dari kegiatan belajar-mengajar itu harus terukur dengan jelas. Seorang anak yang mengikuti Sekolah Minggu harus bertumbuh secara rohani (memahami dan mengalami kehendak Tuhan) serta bisa melakukan pelayanan.

Untuk itu, Sekolah Minggu harus digarap secara sangat serius. Bukan hanya sebagai kegiatan pengisi waktu luang. Bukan sekedar kegiatan untuk menjaga anak supaya saat kebaktian berlangsung mereka tidak mengganggu ibadah orangtua mereka. Bukan sekedar acara bersenang-senang untuk menghibur anak-anak. Sekolah Minggu adalah bagian dari “pengkaderan Kristen” yang intensif.

Sekolah Minggu dan SDM Gereja

Sekolah Minggu merupakan pendidikan non-formal yang diterapkan di dalam komunitas gereja Kristen untuk mengajarkan agama bagi jemaat kategori anak-anak. Adapun di gereja-gereja Baptis, Sekolah Minggu dipakai untuk pendidikan agama bagi seluruh jemaat gereja yang diadakan pada hari Minggu menurut jenjang-jenjang sebagai berikut: kelas Indria (anak-anak balita), kelas Pratama (anak-anak), kelas Madya (anak sampai usia akhir SD), kelas Tunas Muda (remaja usia SMP), kelas Remaja (remaja usia SMU), kelas Pemuda, dan kelas Dewasa.

Sekolah Minggu lahir di Inggris pada 1780. Perkembangannya pesat sehingga pada 1817 didirikan American Sunday School Union. Dorris A. Freese dalam Graendorf (1981) memberi penjelasan tentang ”Sekolah Minggu” sebagai berikut. Pertama, Sekolah Minggu pada dasarnya merupakan suatu sekolah. Artinya, proses-proses belajar-mengajar yang terjadi adalah persis seperti yang terjadi di sebuah sekolah umum. Bedanya, sekolah ini diselenggarakan pada hari Minggu.

Kedua, Sekolah Minggu merupakan sekolah Alkitab. Pengajaran Alkitab diberikan secara sistematis dan dapat dipelajari dengan mudah oleh jemaat.

Ketiga, Sekolah Minggu merupakan kegerakan kaum awam (lay movement). Sejarah Sekolah Minggu di Inggris maupun di Amerika Serikat sama-sama menunjukkan peran kaum awam dalam PAK ini. Karena merupakan proses pemuridan, Sekolah Minggu mendasarkan pada prinsip keterlibatan kaum awam seperti dikatakan Paulus: ”Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Tim 2:2).

Keempat, Sekolah Minggu pada dasarnya adalah proses penginjilan. Para murid dididik sejak ia lahir baru sampai dewasa dan sampai bisa memberitakan Injil untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia.

Teolog Chris Marantika membagi fungsi gereja menjadi tiga berdasar eksegesa dari Surat Kisah Para Rasul 8:1 – 12:25. Pertama, fungsi “ke atas kepada Allah” yaitu: (1) ibadah, (2) pemujaan, (3) pujian, (4) doa. Fungsi ini menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh Gereja (gereja-gereja lokal) dalam rangka relasinya dengan Tuhan.

Kedua, fungsi “ke dalam kepada diri”, yaitu: (1) persekutuan, (2) pendidikan atau PAK (3) pendewasaan, (4) disiplin. Hal itu berkenaan dengan kehidupan gereja sebagai sebuah komunitas rohani yang dituntut untuk terus bertumbuh secara kuantitas dan kualitas.

Ketiga, fungsi “ke luar kepada dunia”, yaitu: (1) penginjilan, (2) pelayanan, (3) pengajaran, (4) peneguran. Fungsi ini terkait dengan apa yang ditegaskan Don Hoke yang juga dikutip oleh Marantika sebagai “fokus gereja”, yaitu misi atau pelaksanaan Amanat Agung (Mat 28:19-20). Secara teologis, Gereja di tengah dunia (masyarakat) diberi dua mandat: mandat penginjilan dan mandat pembangunan budaya.

Hubungan antara fungsi-fungsi gereja lokal dengan PAK ada dua. Pertama, PAK – khususnya Sekolah Minggu – merupakan kegiatan kombinasi antara pendidikan, ibadah, dan persekutuan (Laheba, 2007). Bukan melulu proses belajar-mengajar, namun ada nuansa ibadah dan suasana persekutuan yang manis sebagai  sebuah keluarga Allah.

Kedua, Sekolah Minggu sebagai PAK berbasis kompetensi berfungsi mencetak sumber-sumber daya manusia (SDM) Kristen untuk memajukan pertumbuhan gereja. Sekolah Minggu melahirkan jemaat yang militan dalam komitmen rohani. Juga melahirkan para pelayan Tuhan yang berkompeten dan siap pakai untuk melaksanakan pelayanan-pelayaan gereja secara efektif. Baik itu pelayanan yang bersifat internal di dalam gereja, maupun pelayanan keluar seperti penginjilan dan pelayanan sosial kepada masyarakat. Jadi, Sekolah Minggu merupakan wahana pengkaderan umat yang intensif.

(Dikutip dari buku ”Jurnalisme untuk Sekolah Minggu” karya Haryadi Baskoro & Claudia Oki Hermawati, Penetbit ANDI, 2011)

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s