GEREJA GAGAP

PENYAKIT ”KOMPLIKASI GAGAP” GEREJA

Terbukanya kran demokrasi sejak Reformasi 1998 ternyata tidak mendorong Gereja (pemimpin dan umat Kristen) di Indonesia untuk berani lantang berbicara. Entah karena takut, dihinggapi sindrom minoritas, atau ada masalah dalam kompetensi, yang jelas Gereja masih tergagap-gagap di tengah hiruk-pikuk kebebasan bersuara sekarang ini.

W.J.S. Poerwodarminto memaknai “gagap” sebagai berkata tertahan-tahan, terbata-bata, tidak lancar, seperti hendak berkata “baik” menjadi “ba..ba..ba…..ik”. Demikianlah sikap Gereja di tengah masyarakat, terutama ketika berbicara soal politik, hukum, dan kehidupan bermasyarakat (sosial-budaya). Gereja hanya fasih bicara hal-hal rohani, apalagi soal berkat, itu pun hanya di dalam kandangnya sendiri – jago kandang.

Gereja Gapol (Gagap Politik)

Gereja sebagai pemerintahan rohani (spiritual government) yang bertugas menggembalakan dan menginjil sering tidak peduli dengan masalah-masalah politik. Hal itu membuat gereja gagap saat harus menghadapi masalah politik dan berbicara soal politik. Kegagapan itu terlihat jelas dari: (1) gereja tak punya posisi tawar di hadapan pemerintahan sipil [civil government] saat harus berbicara mengontrol kinerja pemerintah supaya mensejahterakan rakyat [Rm 13:4], (2) gereja inferior menghadapi kebijakan-kebijakan pemerintah yang meminggirkan kekristenan, (3) gereja banyak ditunggangi kepentingan-kepentingan politik karena buta peta dan tak paham permainan politik, misalnya dalam kasus dukung-mendukung pemilu, (4) gereja malah berselingkuh dengan politik di mana sebagian pendetanya menjadi avonturir oportunis dalam berpolitik praktis, (5) gereja tak mengkader umat menjadi pemimpin-pemimpin masa depan. Menurut Lugo (2009), kegagapan politik itu terjadi karena faktor “kecelakaan sejarah” berupa pembodohan politik Gereja oleh Penjajah di Indonesia pada masa lalu.

Gereja Gakum (Gagap Hukum)

Gereja cenderung hanya memikirkan perkara rohani, padahal keberadaannya di muka bumi otomatis menjadikannya sebagai warga gdunia juga. Kegagapan Gereja dalam masalah-masalah hukum terlihat dari: (1) ketidaktahuan Gereja akan masalah-masalah hukum, (2) kurangnya tanggunjawab Kristen di hadapan hukum, misalnya soal ketaatan membayar pajak, (3) ketidakmampuan dalam advokasi saat menghadap berbagai masalah hukum, berbeda dengan Paulus yang bisa “membela diri” karena paham soal hukum dan seluk-beluk kewarganegaraan [Kis 22:23-39], (4) rendahnya kontribusi Gereja dalam proses pembentukan hukum, karena lemahnya suara Kristen, (5) ketidakmampuan Gereja melakukan kontrol terhadap perkembangan hukum, padahal mekanisme untuk menguji kembali [judicial review] peraturan hukum di era demokrasi sangat dimungkinkan.

Gereja Gasosbud (Gagap Sosial-Budaya)

Kegagapan Gereja dalam masalah sosial-budaya (sosbud) terlihat dalam masalah-masalah sebagai berikut: (1) Gereja absen dan bahkan menarik diri dalam eksklusivitas sosial, (2) identitas dan eksistensi sosbud Kekristenan lemah karena ketidakterlibatan dalam pergaulan sosbud, (3) kontribusi Gereja dalam mengentaskan masalah-masalah sosial tidak menonjol, (4) Gereja cenderung terjerat dan terseret oleh perkembangan budaya yang justru melemahkan kualitas kebudayaan Kristen itu sendiri, misalnya kasus sinkretisme, pluralisme-multikulturalisme yang mengorbankan iman Kristen, atau kasus terseretnya kaum muda gereja dalam gelombang kebidayaan populer [kultur pop] yang tak filosofis, (5) Gereja tidak produktif mengkreasi “kebudayaan Kristen” [nilai-nilai, filosofi, ideologi, pemikiran Kristen] untuk mentransformasi masyarakat/bangsa.

Penyembuhan (Pemulihan) Gereja

Solusi untuk menyembuhkan komplikasi penyakit gagap ini adalah: (1) mengarahkan kembali fokus Gereja [pemimpin dan umat Kristen] pada MISI [Mat 28:19-20] yang menuntut konsekuensi bagi Gereja untuk berdampak ke luar lingkup dirinya sendiri, (2) menggalakkan pendidikan Kristen multi kompetensi yang progresif-transformatif sehingga menjadikan Gereja [pemimpin dan umat Kristen] smart, kritis, kreatif, dan berani bersuara, (3) melatih Gereja [pemimpin dan umat Kristen] untuk menyampaikan suara kenabiannya kepada masyarakat dan pemerintah, termasuk melalui jalur media.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s