GEREJA

BEBERAPA OTOKRITIK

  1. PERPECAHAN TIADA HENTI
  2. BISNIS GEREJA
  3. FREE FIGHT LIBERALISM
  4. MATERIALISME, HEDONISME, NARSISISME
  5. EKSKLUSIVITAS SOSIAL, GEREJA ABSEN
  6. ZONA NYAMAN
  7. TIDAK ADA FOKUS MISI
  8. SEKAT-SEKAT ORGANISASI
  9. ATAS NAMA VISI KESATUAN
  10. SEKEDAR KELOMPOK SOSIAL
  11. KERAJAAN-KERAJAAN RAKSASA
  12. FEODALISME, NEPOTISME, DINASTI TURUN-TEMURUN
  13. GEREJA RASIS
  14. CHURCH GROWTH ATAU CHURCH HEALTH?

 

(1) PERPECAHAN TIADA HENTI

Fakta ini tak dapat dipungkiri, bahwa Gereja sering kali berpecah belah. Faktor penyebabnya beragam, namun kebanyakan karena faktor kepentingan dan konflik. Perebutan kekuasaan atau prebutan aset dan keuangan sering menjadi faktor pemicu perpecahan Gereja.

Jika Gereja berpecah-belah gara-gara faktor perselisihan dan iri hati, Paulus jelas-jelas menyebut hal itu sebagai tanda ketidakdewasaan: Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarang pun kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi? Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? (1 Kor 3:1-4)

Namun Gereja dan para hamba Tuhan sering mengelak untuk mengakui ketidakdewasaan ini. Bahkan sering membenarkan diri bahwa ”ada rencana Tuhan” dalam setiap perpecahan yang terjadi. Yang lain mensyukuri perpecahan demi perpecahan itu sebagai bentuk ”multiplikasi pertumbuhan gereja”.

(2) BISNIS GEREJA

Sebagian, tentu tidak semuanya, pendeta dan tim kepemimpinan  gereja mengelola gerejanya persis seperti mengelola perusahaan bisnis yang sangat profit oriented. Jemaat diposisikan sebagai konsumen dan klien, pelayanan gereja dikemas sebagai pelayanan jasa spiritual, sehingga profit dapat ditarik melalui sistem persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan lainnya.

Karena itu gereja-gereja lokal sangat bersambisi untuk mencari jemaat sebanyak-banyaknya karena mereka itu merupakan sumber pendepatan. Bayangkan saja, kalau satu jemaat bisa memberi persepuluhan Rp. 1 juta per bulan maka kalau ada 30 jemaat berarti sudah masuk Rp 30 juta per bulan. Maka kalau perlu merebut ”domba-domba tambun” dari gereja-gereja lokal lain. Kecuali itu jemaat yang tidak bisa memberi persembahan banyak tidak perlu diperhatikan.

Karena diputar sebagai roda bisnis maka layanan jasa spiritual gereja juga dibuat semenarik mungkin. Pelayanan, ibadah, KKR, semuanya dikemas sebagai produk-produk yang menarik hati jemaat dan menjadi magnet bagi orang-orang kristen yang belum terjangkau.

Bisnis gereja telah menumbuhkan mentalitas jemaat sebagai konsumen. Gereja menjadi seperti rumah makan, cafe, dan toko. Kalau tak puas di gereja A maka pindahlah di gereja B. Karena, pembeli adalah raja maka jemaat pun menjadi sewenang-wenang ketika bisa ”membeli” pelayanan dengan uang besar. Pendata pun akhirnya berada di bawah ketiak pada pebisnis yang membeli dan mendukung keuangan.

(3) FREE FIGHT LIBERALISM

Pengelolaan gereja sebagai bisnis menyebabkan terjadinya persaingan sengit dan tidak sehat antar gereja lokal. Sebagai contoh adalah perebutan pengerja gereja. Jika ada pengerja yang bagus, misalnya pemusik bagus, gereja besar mengiming-iminginya gaji tinggi supaya bisa melayani di gerejanya. Padahal, si pemusik tadi sudah melayani di gereja kecil. Demi uang maka si pemusik pun memilih bekerja di ”perusahaan jasa spiritual” yang bisa memberinya gaji tinggi itu.

Persaingan bebas – free fight liberalism – antar gereja menyebabkan gereja besar menggilas gereja gurem. Gereja besar menyediakan bis-bis yang menjemput jemaat-jemaat dari gereja kecil. Gereja besar memberikan servis yang memuaskan, mewah, dan menyenangkan. Akhirnya jemaat-jemaat gereja kecil bertransmigrasi ke gereja-gereja besar. Gereja-gereja kecil pun gulung tikar dan untung saja belum ada pendeta yang bunuh diri karena bangkrut itu.

Gereja-gereja berlomba-lomba pasang iklan. Kalau kita cermati siaran radio Kristen misalnya, tampak jelas persaingan bisnis gereja itu. Semua gereja pasang iklan, menyebut gerejanya yang paling baik, persis orang jualan kecap yang tak pernah bilang kalau kecap saya nomor dua, pasti nonor satu.

(4) MATERIALISME, HEDONISME, NARSISISME

Bangsa Indonesia sering tercengang dengan gaya pemborosan yang seringkali dilakukan oleh negara (Kompas, 21 Jan 2012). Bayangkan, harga sebuah kursi di DPR saja sudah Rp 24 juta. Itu sudah seharga rumah petak yang hanya Rp 15 sampai Rp 20 juta saja. Sementara itu biaya pemeliharaan gedung Istana Presiden juga luar biasa, Rp. 21,89 miliar.

Tapi jangan salah, pemborosan berbau materialisme semacam itu juga terjadi di dalam gereja. Gereja-gereja besar benar-benar jor-joran menghabis-habiskan uang untuk memermak gedung mereka dengan perabot dan peralatan teknis yang hebat dan serba mahal. Semetara itu masih sangat banyak gereja kecil yang hampir ambruk di desa-desa dan di kawasan pedalaman. Masih banyak pula hamba-hamba Tuhan miskin yang hidup menggelandang demi bisa melayani Tuhan. Ketimpangan semacam itu sungguh-sungguh terjadi.

Alasan pembenarnya selalu dan selalu – alasan klasik – untuk memberi persembahan bagi Tuhan harus yang terbaik. Para hamba Tuhan borjouis itu selalu memakai ayat perempuan yang mempersembahkan minyak mahal untuk mengurapi Yesus, yang dianggap oleh pemborosan. Untuk melegitimasi pemborosan itu, tak sedikit pula hamba Tuhan yang menyebutnya sebagai ”perintah Roh Kudus”.

Spirit materialisme, hedonisme, dan narsisisme sering menguasai para hamba Tuhan dan gereja-gereja. Mereka yang dikuasai itu cenderung memboros-boroskan uang demi penampilan diri, penampilan gedung, penampilan pelayanan yang mewah dan hebat. Mereka tak ingat lagi tenang kemiskinsn dan penderitaaan yang sedang terjadi di gereja-gereja lain dan hamba-hamba Tuhan lain.

Gereja semacam itu pasti juga tidak peduli dengan kehidupan masyarakat non-Kristen yang menderita. Maka banyak gedung gereja megah didirikan di tengah-tengah kawasan kumuh yang penuh penderitaan. Dalam hal ini gereja bukan hanya absen di tengah masyarakat, namun gereja menjadi mercusuar yang berdiri di atas puing-puing penderitaan masyarakat.

(5) EKSKLUSIVITAS SOSIAL, GEREJA ABSEN

Eksklusivitas dalam iman, harus. Tetapi eksklusivitas secara sosial, jangan. Yang terjadi sering terbalik, iman kita tidak jelas, teologi pluralis-liberal. Sementara itu, kehidupan sosial Gereja eksklusif, tidak bisa bergaul dan membaur dengan masyarakat.

Eksklusivitas sosial gereja menjadikan gereja absen di tengah masyarakat. Pendeta dan jemaat tidak bergaul dengan masyarakat. Menyapa pun tidak. Apalagi terlihat dalam kehidupan kebersamaan di tengah masyarakat.

Gaya hidup juga eksklusif, dengan tampil mewah di tengah masyarakat miskin. Tidak ada rasa empati dan peduli. Maka tak heran kalau kehadiran gereja justru memicu kecemburuan sosial dan kebencian masyarakat.

(6) ZONA NYAMAN

Gereja menjadi zona nyaman orang Kristen. Adalah benar bahwa ”keluarga Allah” merupakan tempat yang di dalamnya kita saling menguatkan, saling melayani, saling membangun, saling membantu bukan hanya secara rohani tetapi juga moral, material, dan finansial. Tetapi, atas dasar itu, gereja kemudian didisain sebagai ”sarang kenyamanan”, comfort zone yang meninabobokkan umat.

Umat tidak didorong untuk berdampak keluar. Gereja tidak mengutus umat menjadi utusan-utusan Kristus di tengah masyarakat. Orang Kristen menjadikan gereja sebagai tempat hiburan yang nyaman, rumah yang di dalamnya kita bisa enak-enak tidur santai sambik menyantap makanan-makanan rohani level susu yang enak-enak – bukan makanan keras yang menggoyangbangkitkan zona nyaman kita.

Padahal semestinya gereja merupakan base camp, tempat penggodokan, kawah candradimuka yang merupakan tempat penggemblengan umat supaya menjadi militan. Gereja kemudian mengutus umat untuk pergi keluar memberitakan kabar baik dan menjangkau jiwa sesat.

(7) TIDAK ADA FOKUS MISI

Gereja ”zona nyaman” pastilah gereja yang tidak misioner. Gereja zona nyaman membuat seluruh jemaat nyaman dengan keasyikan kesibukan internal gereja. Maka dari Senin sampai Sabtu gereja membuat bermacam-macam kesibukan pelayanan ini dan itu sehingga jemaat betah di gereja. Kenyamatan fasilitas juga dibuat luar biasa sehingga gereja menjadi sebuah masyarakat tersendiri yang tidak berusan dengan dunia luar yang menderita.

Gereja ”zona nyaman” membuat orang Kristen tidak peka terhadap lingkungan masyarakat. Apalagi tergerak untuk memberitakan kabar baik dan menjangkau jiwa sesat. Gereja seperti ini berfokus pada diri sendiri alias egosetris, yang berarti juga hedonistik, materialistik, dan narsisistik.

Teolog Don Hoke mengkoreksi gereja yang sibuk dengan dirinya sendiri itu. Hoke menjelaskan pentingnya misi menjadi fokus gereja. Dan misi itu berbicara bagaimana gereja berdampak keluar, bukan ke dalam, namun keluar kepada dunia.

(8) SEKAT-SEKAT ORGANISASI, TAK ADA SINERGI

Hanya karena berbeda organisasi, maka kenyataannya, gereja-gereja lokal yang bahkan sangat berdekatan secara geografis tidak saling kenal satu sama lain. Padahal di sebuah wilayah bisa saja terdapat lebih dari dua atau tiga. Namun karena berbeda denominasi dan organisasi maka tak pernah saling bertegur sapa, apalagi terjadi sinergitas dalam pelayanan.

Kenyataannya, organisasi benar-benar menjadi tembok-tembok pemisah antar pemimpin dan antar umat. Maka kalau ada singkatan GTT (Gereja Tanpa Tembok), ada pula plesetan­­-nya, GTT = Gereja Tembok Tok (artinya gereja hanya melulu penuh tembok).

Maka Natalan atau Paskahan bersama antar gereja hanyalah sebuah formalitas. Para pendeta bergandeng tangan dalam sebuah acara oikumene hanyalah sebuah prosesi yang tanpa penghayatan.

Kepentingan organsasi sangat sarat dengan kepentingan kekuasaan dan keuangan Karena itu antara organisasi gereja yang satu dengan organisasi gereja yang lain tidak pernah terjadi kerjasama.

Organisasi tentu penting. Sejak jaman Musa pun Tuhan sudah memberi inspirasi – melalui Yitro – untuk membangun sistem dan manajemen. Gereja dalam Perjanjian Baru pun diorganisir. Tetapi, Paulus mengingatkan supaya organisasi tidak membuat Tubuh Kristus menjadi terpecah belah. Sebab sama seperti Tubuh, Gereja adalah sebuah ”organisma” bukan semata-mata organisasi,

(9) ATAS NAMA VISI KESATUAN

Kesadaran dan penyadaran akan keutamaan kesatuan Tubuh Kristus sebenarnya sudah mulai ada. Gerakan-gerakan kesatuan, mulai dari Jaringan-Jaringan Doa Sekota digiatkan. Kerinduan untuk menjadi jawaban doa Yesus (Yoh 17:20-22) bertumbuh.

Namun, selalu ada saja yang berkepentingan dan memanfaatkan. Beberap pihak Kristen memakai (menunggangi, memanfaatkan) momen-momen dan gerakan-gerakan bernuansa kesatuan Tubuh Kristus itu untuk kepentingan dirinya sendiri. Atas nama visi kesatuan mereka mempromosikan pelayanannya sendiri bahkan mencaplok gereja-gereja gurem untuk membesarkan gerejanya sendiri.

Dengan demikian, pelayanan yang mengatasnamakan visi kesatuan Tubuh Kristus tak semuanya murni untuk kesatuan Tubuh Kristus. Sering hanya menjadi kedok untuk mencari pengikut. Menjadi kedok untuk akhirnya mendirikan gereja sendiri di sebuah kota. Hal itu berarti benar-benar menjadikan visi kesatuan hanyalah sebagai alat untuk kepentingan ”politik pelayanan” dan ”kapitalisme pelayanan”.

(10) SEKEDAR KELOMPOK SOSIAL

Di sisi lain, tak sedikit gereja lokal yang tidak berorientasi rohani. Gereja hanya menjadi sebuah paguyuban, kelompok sosial. Berkumpul di gereja tidak untuk berdoa, tidak untuk memuji Tuhan. Kumpul-kumpul di gereja hanya untuk bergaul, bahkan ada yang untuk mabuk-mabuk dan pesta pora.

Ada pula gereja yang sangat concern untuk melayani masyarakat. Mereka membuat aneka kegiatan sosial. Tetapi tidak pernah berdoa dan tidak mengandalkan Roh Kudus. Gereja semacam itu menjadi sebuah LSM yang sekuler.

(11) KERAJAAN-KERAJAAN RAKSASA

Gereja-gereja mapan yang sudah besar menjadi semacam kerajaan-kerajaan raksasa yang tak tergoyahkan. Mereka mempunyai sistem yang kuat, organisasi yang solid, di dukung kekuatan finansial dan material yang luar biasa. Gereja-gereja seperti itu juga menjadi kerajaan-kerajaan bisnis yang luar biasa kuat.

Dalam kerajaan-kerajaan itu umat menjadi ”rakyat” yang berada di bawah sistem politik-ekonomi berbalut spiritualitas. Rakyat berada di bawah pemerintahan dan dikondisikan untuk pasif. Umat dikondisikan untuk hanya bekerja di bidang pekerjaan masing-masing. Kalau umat ingin melayani, mereka harus mengikuti aturan hukum yang berlaku dalam kerajaan itu. Pemberontakan tak boleh terjadi, kritik saja tidak boleh. Dengan demikian umat berada di bawah hegemoni dan dominasi kekuasaan spiritual dan ekonomikal para penguasa kerajaan itu.

(12) FEODALISME, NEPOTISME, DINASTI TURUN TEMURUN

Dalam gereja lokal yang bersistem kerajaan itu, feodalisme dan nepotisme terjadi. Mobilitas sosial vertikal dalam pelayanan tak mudah terjadi. Posisi-posisi elit dalam gereja itu hanya bisa diduduki oleh orang-orang berjalur khusus yang berbasis kekerabatan. Dengan demikian sistem kekuasaan dalam gereja itu menjadi sebuah dinasti turun-temurun.

Menurut saya, penciptaan sistem adalah keputusan dan hak setiap gereja lokal dan setiap hamba Tuhan. Jadi dalam hal ini saya tidak menyalahkan begitu saja karena itu terserah masing-masing gereja.

Hanya saja, kita tetap bisa mengkritisinya bukan karena faktor like and dislike, tetapi mengkritisinya dengan mengkomparasikan dengan ALKITAB. Baik atau buruknya sistem harus dinilai dari apa kata ALKITAB. Dan dalam hal inilah gereja-gereja sering enggan untuk mengevaluasi diri karena kemapanan yang sudah ada bersifat melanggengkan kekuasaan. Sikap kritis dianggap membahayakan kepentingan kekuasaan para elit gereja.

(13) GEREJA RASIS

Ini agak sensitif. Tetapi kalau kita mau mengevaluasi diri secara jujur, harus berani bersikap kritis. Yang jelas, fakta di lapangan membuktikan bahwa rasisme masih kental terjadi dalam kehidupan bergereja. Kelahiran baru dan kepenuhan oleh Roh Kudus seringkali tidak otomatis menyelesaikan masalah-masalah entosentrisme dan etnisitas di antara anak-anak Tuhan. Apalagi ketika bersentuhan dengan kepentingan kekuasaan (politik pelayanan) dan keuangan (ekonomi), anak-anak Tuhan dihinggapi sikap-sikap rasis yang tidak membawa kita semua menjadi satu keluarga illahi.

(14) CHURCH GROWTH ATAU CHURCH HEALTH?

Visi pertumbuhan gereja yang diterapkan dalam pelayanan gereja-gereja sering tidak berbasis pada misi (penginjilan jiwa sesat). Akibatnya, gereja-gereja lokal justru menjadi membabi buta mengejar pertumbuhan jumlah (kuantitas) jemaat. Bahkan menghalalkan segala cara termasuk merebut, menyabot, merampas, dan bahkan membeli jemaat dan pengerja dari gereja-gereja lain. Akibatnya lebih lanjut, obsesi pertumbuhan gereja menjadi pemicu terjadinya perpecahan antara gereja.

Gereja yang mengejar pertumbuhan kuantitas sering lupa dengan soal kesehatan spiritual gereja itu sendiri. Salah satu ciri gereja yang sehat adalah tidak mungkin bersifat antagonis terhadao gereja lain. Ibaran sel-sel dalam Tubuh, jika sebuah gereja merupakan sel yang baik maka ia tidak mungkin memakan gereja-gereja lain. Hanya sel yang buruk, sejenis sel kanker-lah yang sifatnya memakan sel-sel lain sehingga akibatnya tubuh menjadi hancur.

Gereja yang sehat adalah gereja yang mencari jiwa sesat alias misioner. Namun yang terjadi adalah penginjilan semu (pseudo evangelism) karena hanya memindah jemaat dari geraja lain masuk ke gereja kita. Demikianlah gereja-gereja berada dalam hubungan-hubungan yang tidak sehat. Pertumbuhan terajadi di anggota tubuh tertentu tetapi kehancuran dan kemerosotan terjadi di anggota tubuh lain. Ada gereja kegemukan dan ada gereja kekurusan. Bagian tubuh yang tumbuh besar namun tidak normal adalah semacam “daging tumbuh” yang justru membahayakan.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s