HAMBA TUHAN

(1) HAMBA BERHATI TUAN

Menjadi hamba Tuhan semestinya memiliki hati hamba yang berjiwa melayani. Yesus sendiri memberi contoh dengan membasuh kaki para murid-Nya, bukan sekedar menunjukkan kasih-Nya tetapi  komitmen kehambaan-Nya – Aku datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Yang sering terjadi para kita adalah, bangga disebut dan dipanggil sebagai “hamba Tuhan”. Tetapi komitmen kehambaan kita kurang. Kita minta dihormati, diperlakukan sebagai tuan, dipuja sebagai seseambahan.

Jika kita memimpin jemaat, kita sering tidak menjadi hamba bagi jemaat. Kita menjadi tuan atas jemaat kita, sembahan bagi jemaat kita. Kita main perintah kepada jemaat. Kita juga mudah menghakimi ketika jemaat bersalah, bahkan penghakiman itu dilancarkan melalui mimbar gereja.

(2) HAMBA TANPA PANGGILAN ILLAHI

Melayani Tuhan seharusnya adalah panggilan Tuhan. Paulus, kalau tidak dipanggil langsung oleh Yesus, tidak akan pernah bertobat dan apalagi melayani Dia. Dan panggilan pelayanan itu berciri spesifik, seperti halnya Paulus yang dipanggil untuk menjadi pelayanan khusus di bidang kerasulan, pengajaran, dan penginjilan.

Sekarang menjadi ”hamba Tuhan” seperti sebuah trend populer saja. Di satu sisi hal itu mempunyai sisi positif sebab merupakan sebuah kegerakan kaum awam. Semua orang bisa melayani Tuhan. Tetapi, sisi negatifnya, nilai pelayanan menjadi rendah karena semua orang merasa dan kemudian dihormati sebagai hamba Tuhan.

Tren para bisnisman melayani Tuhan memang luar biasa. Itu merupakan bukti bagaimana Tuhan memakai semua kaum awam. Tetapi seringkali, sebagian mereka terjun ke dunia pelayanan bukan karena panggilan illahi, tetapi karena motif-motif lain seperti motif ingin tampil, sekedar hobi, iseng, dan bahkan ada yang bermotivasi memanfaatkan dunia pelayanan sebagai lahan bisnis, lahan marketing.

Ketidakjelasan panggilan pelayanan juga terlihat dari dinamika sekolah-sekolah teologi. Idealnya, orang masuk STT karena dipanggil Tuhan sebagai hamba-Nya. Itu dulu, dipanggil dulu dan baru memperlengkapi diri dengan sekolah. Adapun yang terjadi, karena tidak diterima masuk di sekolah-sekoah sekuler, maka jalan keluarnya ya masuk STT saja. Yang penting kuliah dan dapat gelar sarjana, master, atau doktor.

(3) HAMBA TUHAN: COPY PASTE VS ORIGINAL MESSAGE

Hamba Tuhan sejati pasti diberi pesan (wahyu) khusus dari Tuhan untuk disampaikan kepada umat. Musa dipanggil menjadi hamba-Nya dengan pesan khusus bagi bangsa Israel yang akan dibawanya keluar dari Mesir masuk Kanaan. Para nabi dipanggil dan diberi tugas khusus untuk menyampaikan pesan-pesan khusus sebagaimana yang Tuhan wahyukan kepada mereka.

Bagaimana dengan para hamba Tuhan sekarang? Karena panggilannya tidak jelas, pesan yang disampaikan juga tidak jelas. Seringkali hanya ”copy paste”, mengkotbahkan dan mengajarkan pesan-pesan pengajaran yang telah disampaikan hamba-hamba Tuhan lain. Apalagi kalau pelajaran-pelajaran itu ”impor” dari luar negeri, kita menganggapnya paling bagus lalu kita ajarkan lagi kepada jemaat atau audiens kita. Kita sangat latah dan suka meniru, copy paste atau menjiplak sama sekali.

Jika seorang hamba Tuhan benar-benar dipanggil Tuhan dan mempunyai hubungan intim dengan Tuhan, pastilah akan diberi pesan-pesan khusus dari Tuhan. Pesan itu bersifat asli, original, langsung merupakan ”rhema” dari Tuhan.

(4) HAMBA TUHAN: GAGAL MENJADI KOMUNIKATOR

Mungkin seorang hamba Tuhan sudah sampai pada tataran dipanggil dan diberi message.

Bahkan ia mendapatkan wahyu (rhema) langsung dari Roh Kudus. Ia mendapat visi, mimpi, penglihatan, dan sebagainya. Namun, seringkali gagal dalam hal menyampaikan pesan-pesan Tuhan itu.

Hal itu seperti Yusuf anak Yakub. Ia mendapat mimpi dari Tuhan, tetapi terlalu ”prematur” dalam menyampaikan pesan-pesan itu kepada orang-orang yang tidak tepat. Akibatnya feedback yang diperoleh justru negatif. Ia sendiri ditolak dan dibuang. Dari sudut sejarah memang itu semua dalam rencana dan kontrol Tuhan. Namun dari sisi komunikasi, itu adalah kegagalan menjadi komunitator yang baik.

Banyak pendoa misalnya, mendapat penglihatan dari Roh Kudus. Tetapi, karena tidak bijak dan berhikmat dalam menyampaikannya, justru tidak menjadi berkat. Demikian pula Gereja telah mendapat banyak suara Tuhan, tetapi mengapa tidak pernah disampaikan kepada masyarakat. Di mana penulis Kristen, misalnya?

Kegagalan menjadi komunikator itu disebabkan kurangnya kompetensi. Dalam hal jurnalistik misalnya, masih sangat sedikit pendeta Kristen yang bisa dan aktif menulis opini di surat kabar umum. Dengan demikian, pesan-pesan Tuhan yang didapatken Gereja hanya teronggok di Gereja, tidak pernah tgerkomunikasikan kepada masyarakat. Gereja gagal menjadi corong Tuhan di dunia ini.

Hamba Tuhan juga terkadang kurang kreatif dalam menyampaikan pesan (messageI). Padahal ada banyak cara menyampaikan seperti (1) melalui perkataan lisan – kotbah, kesaksian, (2) melalui tulisan – buku, tulisan di koran, internet, dll, (2) cara berpakaian, malahan kadang tidak jadi berkat, (3) gaya hidup, (4) tindakan-tindakan profetik, (5) berbagai media lain. Padalah, lewat cara hidup, misalnya ”perkawinan” atau ”pelayanan sosial tertentu” sebetulnya pesan-pesan itu bisa disampaikan.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s