HUKUM

GEREJA GAKUM (GAGAP HUKUM)

Dalam sebuah Pemilukada walikota di sebuah kota yang baru lalu sempat diwarnai dengan black campaign yang sifatnya mendiskreditkan salah satu kandidat dengan cara  membeberkan perilaku korupnya. Padahal, kandidat yang diserang itu merupakan kandidat yang cenderung didukung oleh Gereja (pemimpin dan umat) Kristen.

Meskipun masalah black campaign itu dapat diatasi dan pemilukada pun berlangsung sukses, pengalaman tersebut menunjukkan betapa pentingnya Gereja memahami masalah hukum. Dengan memiliki wawasan dan kemampuan analisis hukum yang baik, Gereja bisa menjadi cerdas dan cermat dalam menilai para kandidat dan para pemimpin, tidak tertipu oleh pesona pencitraan mereka.

Kejelian melihat masalah hukum akan menolong Gereja sehingga tidak salah memilih pemimpin. Para koruptor itu sangat licik. Siapa yang benar dan siapa yang salah sulit diketahui. Hal itu karena supremasi hukum belum ditegakkan. Menurut Chaerumam Harahap (2003), penyebab lemahnya penegakkan hukum di negeri ini adalah (1) belum sempurnanya perangkat hukum, (2) masih rendahnya integritas moral aparat penegak hukum, (3) penegak hukum belum profesional, (4) penghasilan aparat hukum rendah, (5) tingkat kesadaran hukum masyarakat rendah, (6) kurangnya sarana-prasarana, (7) adanya campur tangan tak proporsional dari pemerintah dalam proses-proses peradilan.

Jika Gereja memahami masalah hukum maka Gereja tak akan mudah ditipu, dirayu, dan apalagi disuap. Meskipun tak terungkap dan selalu ditutup-tutupi, politik uang (money politic) dalam setiap pemilukada di repunlik ini masih terus terjadi.

Gereja juga harus memahami hukum sebab kandidat pemimpin eksekutif yang dipilih akan bersama-sama legislatif (DPRD) memproduksi peraturan-peraturan perundangan. Dan, peraturan-peraturan seperti itu seringkali merupakan kristalisasi kepentingan politik penguasa. Berbagai Peraturan Daerah (Perda) yang bernuansa agama tertentu misalnya, lahir dari kepentingan politik kelompok agama tertentu.

Apa yang harus dilakukan oleh Gereja Tuhan saat mengalami ketidakadilan hukum? Pertama, berdoa. Saat Paulus dan Silas berdoa di penjara, Tuhan mengadakan mujizat gempa yang melepaskan mereka (Kis 16:19-40). Kedua, Gereja harus berani ‘mengadvokasi’ dirinya sendiri. Saat Paulus akan dihukum secara tidak adil, Paulus membela diri dengan argumentasi hukumnya dan ia pun tidak jadi dihukum (Kis 22:23-29). Artinya, ya berdoa, ya bekerja. Ya, tulus seperti merpati, namun juga cerdik seperti ular. Demikian juga mensikapi pemilukada, Gereja harus berdoa dan bertindak.

Karena itu pendidikan wawasan Hukum sangat penting. Namun para pemimpin dan umat Kristen juga harus memiliki pandangan teologis-Alkitabiah yang kuat dan tajam. Sehingga, bukan hanya bisa mencermati persoalan hukum apa yang terjadi namun bisa mengambil sikap dan tindakan yang tepat menurut kehendak Tuhan. Seperti pada pemilukada itu, Gereja mampu memahami masalah hukum para kandidat dan mencermati visi-misi hukum mereka serta bisa memilih dan memberi dukungan dengan tepat.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s