ISU AKHIR JAMAN

 (1) JANGAN SENSASIONAL!

“Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.” (Mrk 13:32-33)

Sebenarnya, prediksi tentang akhir jaman dan kedatangan Kristus kedua kali (KKKK) yang mengerucut pada penetapan hari, tanggal, bulan, dan tahun tertentu sudah terjadi sejak dulu. Sebagaimana dicatat John Naisbitt, seorang kepala biara dari Fleuri yang hidup dari tahun 945 sampai 1004 Masehi pernah mengatakan, “Ketika saya masih muda, saya mendengar kotbah mengenai akhir dunia disampaikan di hadapan orang-orang di dalam katedral Paris. Menurut kotbah ini, segera sesudah jumlah seribu tahun tercapai, Antikristus akan datang dan penghakiman terakhir akan menyusul dalam waktu singkat.”

Pada tahun 200 Masehi, Hippolytus mengajarkan bahwa dunia akan berakhir pada tahun 500 Masehi. Ia sendiri adalah seorang cendekiwan Roma yang menjadi Kristen. Ternyata, pada tahun 500 itu, kekaisaran Roma Barat runtuh. Roma memang kiamat, tetapi dunia belum berakhir juga.

Menurut catatan Naisbitt, disamping tahun 500 dan 1000 Masehi, beberapa tahun berikut ini pernah diprediksikan sebagai tahun kiamat: 1260, 1420, 1533, 1843, 1844, 1845, 1847, 1851, dan 1914. Pendeta Hal Lindsay pada tahun 1980 mengarang buku Countdown to Armageddon. Katanya, “Kelahiran kembali bangsa Israel menjadi tanda bahwa hitungan-mundurnya telah dimulai.” Dalam buku itu ia mengatakan bahwa pengangkatan (rapture) dan masa aniaya besar (tribulasi) akan terjadi pada tahun 1980.

Pada awal 1988, Edgar Whisenant menulis buku laris berjudul 88 Reasons Why the Rapture Will Be in 1988. Menurutnya, pengangkatan akan terjadi pada tanggal 11-13 September 1988. Tanggal-tanggal itu bertepatan dengan masa Rosh Hashanah, tahun baru Yahudi yang juga dikenal sebagai Yom Teru’ah atau Hari Peniupan Serunai. Ketika hari-hari itu berlalu tanpa sesuatu pun yang terjadi, Whisenant menulis ulang bukunya dengan judul baru 89 Reasons Why the Rapture Will Be in 1989.

Pada 1994, Harold Camping meramalkan bahwa KKKK akan terjadi pada tanggal 7 September 1994. Ia menetapkan tanggal itu berdasar perhitungan angka-angka (numerologi), pendirian Israel modern, dan tanda-tanda jaman lainnya. Meski ia sangat yakin dengan perhitungannya, ramalan itu ternyata meleset juga.

Injil Markus dengan jelas mengatakan bahwa tidak ada yang tahu kapan waktu KKKK itu. Malaikat-malaikat dan bahkan Yesus sendiri pun tidak tahu. Kata Yesus, “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba”(Mrk 13:32-33). Yesus menegaskan hal itu lagi sesaat sebelum naik ke sorga. Kata-Nya, ”Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (Kis 1:7).

Yesus menandaskan pula bahwa tidak ada manusia yang tahu kapan waktu tepatnya. Kata-Nya, ”Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang” (Mat 24:42). Meskipun Roh Kudus pada masa kini memberi hikmat, wahyu, dan nubuat, Roh Kudus tidak akan menyingkapkan persoalan waktu itu secara persis. Alkitab sendiri yang adalah Firman Tuhan tanpa salah (inerrant) yang diilhamkam Roh Kudus tidak menyatakan tentang tanggal, hari, bulan, dan tahun KKKK.

Dalam hal inilah manusia dan orang percaya wajib menghormati kerahasiaan rencana Tuhan. Kitab Suci menulis, ”Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini” (Ul 29:29).

Jika manusia mengetahui hari-H akhir jaman itu, reaksi-reaksi yang tidak imani justru akan muncul. Tidak tahu saja sudah senang berspekulasi dan membuat sensasi. Apalagi jika tahu, pasti akan lebih banyak sensasinya lagi. Orang akan menjadikannya komoditas atau alasan untuk bertindak tidak benar. Kekristenan sendiri bukan agama sensasi, tetapi kehidupan rohani yang tulus, tekun, dan taat.

Visi hidup anak Tuhan juga tidak boleh terpaku pada keterobsesian tentang hari, bulan, atau tahun yang diyakini merupakan saat KKKK. Visi berbicara tentang panggilan hidup yang ditetapkan Tuhan. Yang penting adalah menjalani visi dengan taat. Dalam merencanakan hidup juga jangan terpatok pada khayalan tentang hal-hal seperti itu. Ada yang karena yakin kalau tahun 2012 kiamat maka lantas tidak membuat perencanaan apa-apa setelah tahun itu. Ada pula yang membuat perencanaan aneh-aneh karena terosebsesi dengan keyakinan-keyakinan seperti itu. Juga berhati-hatilah dengan orang yang mengaku dirinya hamba Tuhan namun mengendalikan hidup anda supaya melakukan perencanaan-perencanaan yang tidak sehat. Jangan pula merencanakan hal-hal yang diperintahkan orang yang secara emosional mempengaruhi anda untuk melakukan tindakan-tindakan bodoh. Perencanaan hidup harus tetap menggunakan akal budi disamping tentu saja iman dan visi yang illahi.

(2) JANGAN TIDAK PERCAYA!

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16)

Banyak teolog Kristen, yang karena mengedepankan analisis rasional yang kritis, mulai tidak mempercayai kebenaran Alkitab. Sebuah kelompok yang terdiri dari 200 sarjana Alkitab ”liberal” yang menyebut diri mereka ”Seminar Yesus” telah mengadakan pertemuan kusus. Konferensi itu dimaksudkan untuk mencari konsensus tentang perkataan-perkataan Yesus yang mana yang dianggap otentik. Kesimpulan mereka, dari 700 lebih perkataan yang dinyatakan sebagai Firman Yesus dalam Injil, hanya 31 yang dianggap benar-benar otentik. Dan dari 31 itu, lebih dari 50 persen dianggap hanya merupakan pernyataan-pernyataan ganda dari kisah-kisah yang serupa.

Ketidakpercayaan akan kebenaran Alkitab juga mulai merasuki para mahasiswa seminari teologi. Pada 1976, Noel Wesley Hollyfield melakukan penelitian tentang kepercayaan para mahasiswa teologia tingkat S-2 (Master of Divinity  dan Master of Theology) di sebuah seminari di Amerika Serikat. Untuk mahasiswa Master of Theology yang secara khusus mempelajari doktrin-doktrin Alkitab, hasilnya memprihatinkan. Mereka yang percaya Allah hanya 63%. Yang percaya keilahian Yesus hanya 63%. Yang percaya akan mujizat-mujizat dalam Alkitab hanya 37%. Yang percaya akan adanya kehidupan setelah kematian hanya 53%. Yang percaya bahwa Yesus benar-benar pernah berjalan di atas air hanya 22%.

Hal itu terjadi karena Alkitab dianggap seperti buku karya sastra lainnya. Bukan sebagai Firman Tuhan. Karena, menurut mereka, Alkitab adalah karya manusia sehingga pasti memiliki banyak kesalahan dan bahkan penyesatan. Itulah sebabnya mereka merekomendasikan teologi yang bersikap mengkritisi dan bahkan menjungkirbalikkan apa-apa yang ditulis di dalam Alkitab.

Apalagi tentang kedatangan Kristus kedua kali (KKKK). Tentang Yesus berjalan di atas air saja hanya 22% yang percaya. KKKK jauh lebih tidak masuk akal. Bagaimana mungkin orang-orang percaya tiba-tiba berubah bentuk menjadi tubuh-tubuh kemuliaan. Lalu, diangkat naik ke udara untuk menyongsong Yesus di angkasa. Para teolog liberal akan mentertawakan. Kepercayaan akan hal itu dianggap sebagai kepecayaan yang kanak-kanak, seperti seorang bocah yang percaya akan ”Superman” yang bisa terbang melayang. Dengan kata lain, kebenaran-kebenaran seperti itu hanya dianggap sebagai dongeng-dongeng isapan jempol saja.

Sekarang, banyak pendeta yang tidak percaya akan KKKK. Menurut catatan John F. MacArthur, dalam sebuah konvensi gereja di Evanston, Illinois, sekelompok pendeta Protestan tidak mengakui kebenaran KKKK. Sembilan puluh persen dari mereka sama sekali tidak mengharapkan bahwa Kristus akan sungguh kembali ke bumi.

Satu hal yang harus dipegang sebelum merenungkan dan mempelajari lebih lanjut pengajaran tentang akhir jaman ini, adalah bahwa Alkitab itu benar adanya. Seperti yang ditandaskan Paulus dalam suratnya kepada Timotius, Alkitab itu bukan karya manusia. Alkitab memang ditulis oleh para nabi dan rasul. Namun, penulisan itu dilakukan dengan ilham dari Roh Kudus (2 Tim 3:16). Dengan demikian, Alkitab adalah Firman Tuhan tertulis yang tanpa salah (prinsip inerrancy).

Kekristenan yang hanya tradisi-agamawi atau teoritis-pengetahuan mudah dirasuki oleh ketidakpercayaan akan Alkitab. Kekristenan haruslah merupakan kehidupan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena Alkitab itu diilhamkan (inspirasi) oleh Roh Kudus maka untuk bisa mempercayai dan memahaminya kita membutuhkan penerangan (iluminasi) juga dari Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, dengan hanya memakai otak saja, manusia yang ber-KTP Kristen malahan bisa melawan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan oleh Roh Kudus itu. Pertumbuhan rohani hanya terjadi karena Roh Kudus dan pembacaan Alkitab.

Bagaimana orang bisa menjalani hidup Kristennya kalau ia tidak percaya akan Alkitab? Amsal mengatakan bahwa orang yang tidak mempunyai wahyu akan menjadi liar. Terjemahan lain mengatakan bahwa jika tidak ada visi maka rakyat akan binasa (if there is no vision, the people perish). Sedangkan wahyu atau visi yang utama yang mendasar adalah Alkitab itu sendiri. Orang Kristen yang tidak berpegang pada Alkitab akan menjadi liar dan binasa.

(Dikutip dari buku ”77 RENUNGAN ALKITABIAH TENTANG AKHIR JAMAN” karya Haryadi Baskoro, Penerbit ANDI, 2011)

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s