KARISMATIK

BEBERAPA OTOKRITIK

  1. KARISPOBIA
  2. KARISMANIA
  3. KEHILANGAN AKAR KESUCIAN
  4. REKAYASA BAHASA ROH
  5. MENELAN MENTAH-MENTAH, TIDAK MENGUJI DULU
  6. MENANGGALKAN KECERDASAN, ANTI AKAL BUDI
  7. PENGKULTUSKAN TOKOH BERKARUNIA
  8. KARISMA VS KARAKTER
  9. DIKENDALIKAN OLEH HAMBA TUHAN
  10. KARISMATIK SENSASIONAL
  11. BISNIS KARUNIA: SPIRITUALTAINMENT, SPIRITUAL ENTREPRENEURSHIP
  12. SUPRANATURAL ATAU EMOSIONAL ATAU REKAYASA
  13. PELAYANAN YANG TIDAK ALKITABIAH
  14. LEGITIMASI KEKUASAAN
  15. MEMPOLAKAN PEKERJAAN ROH KUDUS
  16. PEMBODOHAN UMAT

(1) KARISPOBIA

Sebagian orang Kristen belum atau tidak mengalami menerima karunia-karunia Roh Kudus dan tidak mengalami dipakai Tuhan dalam kuasa supranatural Roh Kudus karena takut terhadap hal-hal tentang karunia-karunia adikodrati itu. Banyak faktor penyebabnya, misalnya karena takut sesat atau tidak menyukai perkara-perkara supranatural. Kondisi seperti itu bisa disebut sebagai gejala karispobia, pobia (ketakutan) terhadap hal-hal karunia (charis).

Padahal, Tuhan mendorong orang percaya untuk mendapatkan karunia-karunia itu, seperti ditulis Paulus: Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat (1 Kor 14:1). Jemaat Korintus adalah bukti bagaimana Tuhan mencurahkan berbagai-bagai karunia Roh sehingga semua jemaat bisa dipakai Tuhan dalam pelayanan-pelayanan yang berbasis karunia-karunia supranatural.

Karispobia sering tumbuh dari pengajaran-pengajaran yang salah yang mendiskreditkan masalah karunia-karunia dan pelayanan-pelayanan berbasis karunia. Beberapa kalangan Kristen bahkan bersikap anti terhadapnya. Hal itu seringkali dipicu oleh persaingan tidak sehat antara aliran karismatik dengan aliran non karismatik.

(2) KARISMANIA

Di sisi lain, sebagian orang Kristen (karismatik) terlalu maniak terhadap karunia-karunia. Mereka sering disebut terlalu ”nge-roh”, sangat tergila-gila, fanatik, kecanduan, mabuk dengan karunia-karunia Roh.

Dampaknya buruk. Mereka menjadi hidup tidak seimbang, misalnya bersikap anti terhadap hal-hal yang bersifat akal budi. Anti sekolah teologi. Mereka juga mendahulukan karunia daripada karakter. Menjadi sombong rohani. Menganggap dirinya yang paling hebat dan merendahkan serta menghina orang-orang Kristen yang belum atau tidak berkarunia. Dampak yang paling fatal adalah tersesat dalam hal-hal supranatural.

Dalam buku God’s General: Why They Succeeded and Why Some Failed (1996) dicatat bagaimana seorang penginjil berkarunia kesembuhan, William Marian Branham (1909-1965) jatuh menjadi pengajar sesat. Padahal ia sangat berkarunia, diurapi, dan pelayanannya selalu disertai banyak mujizat ajaib. Hal itu terjadi karena ia sombong karena karunia dan pelayanan supranaturalnya yang dahsyat itu. Namun, para pengikutnya sudah terlanjur menjadi karismania-karismania yang sesat. Setelah Branham meninggal, para pengikutnya tidak menguburkannya sampai berbulan-bulan, karena percaya bahwa Branham akan hidup lagi.

(3) KEHILANGAN AKAR KESUCIAN

Hari-hari ini banyak orang Kristen karismatik kedapatan jatuh dalam dosa-dosa kenajisan. Hingar bingar karismatik seringkali melupakan inti panggilan Kristen yaitu dikuduskan bagi Tuhan. Padahal, sejarah mencatat bahwa akar gerakan karismatik adalah gerakan kekudusan.

Sejarah gereja, jika kita cermati, sebetulnya mencatat bagaimana tahap-tahap pemulihan yang merupakan kehendak Tuhan. Kronologi sampai akhirnya muncul gerakan karismatik yang penuh karunia Roh dimulai dari gerakan pemulihan iman dan keyakinan pada Alkitab (Reformasi Gereja abad ke-16), lalu gerakan pertobatan (Anabaptis), dan gerakan kekudusan (holiness movement), lalu gerakan Pentakosta (1900-an), dan baru kemudian gerakan karismatik (mulai 1930-an).

Dari kronologi terlihat jelas bahwa iman, pertobataan, dan pengkudusan mendahului pengalaman dipenuhi Roh Kudus dan diberi serta dipakai dalam karunia-karunia Roh Kudus. Sehingga kaum Pentakosta dan kaum Karismatik pada masa-masa awal pertumbuhan aliran ini relatif lebih menekankan kesucian.

Bagaimana dengan sekarang? Sekarang, karismatik banyak terkontaminasi oleh jiwa pragmatisme dan hedonisme duniawi. Orang Kristen belum benar-bernar bertobat, sudah mengaku mendapat penglihatan, sudah memimpin penyembahan dalam roh. Kesucian tidak diutamakan. Dengan kata lain, gerakan karismatik masa kini telah kehilangan akar kekudusan.

(4) REKAYASA BAHASA ROH

Kristen karismatik masa kini memiliki wajah yang mirip dengan jemaat Korintus yang juga karismatik. Salah satunya adalah dalam penggunaan karunia bahasa roh. Kepada jemaat di Korintus, Paulus memberi nasihat demikian: Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi — bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! Ada banyak — entah berapa banyak — macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (1 Kor 14:1-12)

Surat Paulus ini memberikan kesan bahwa jemaat Korintus penuh karunia. Salah satu karunia yang menonjol di sana adalah bahasa roh. Mungkin, beberapa orang Kristen Korintus suka ”hiperaktif” dalam berbahasa roh. Paulus tidak menyalahkan, malahan mendukungnya (ayat 5). Tetapi Paulus mendorong jemaat Korintus agar dewasa dan memiliki tujuan yang benar dalam menggunakan karunia-karunia itu, yaitu dalam rangka melayanai pembangunan rohani jemaat (ayat 1-4).

Karismatik sekarang bisa jadi lebih parah, karena bukan hanya tidak memahami tujuan bahasa roh, tetapi bahkan ada yang merekayasa bahasa roh. Ada yang mempelajari bahasa roh. Ada yang mengajarkan bahasa roh. Padahal, hakikat karunia (spiritual gift) adalah pemberian yang supranatural, bukan dipelajari secara akal budi.

Jika jemaat Korintus kurang memahami tujuan berbahasa roh, karismatik sekarang malahan merekayasa bahasa roh. Tentunya tidak semua begitu. Tetapi di lapangan, tidak sedikit yang melakukan hal seperti itu.

(5) MENELAN MENTAH-MENTAH, TIDAK MENGUJI DULU

Karismania menyebabkan orang Kristen senangnya menelan mentah-mentah apa-apa yang dirasa telah didapatkan secara supranatural: penglihatan, nubuatan, suara Roh, mujizat, dan sebagainya. Hal itu bisa berbahaya. William Marion Branham bahkan tidak sadar kalau ia telah mengajarkan hal-hal sesat – misalnya ajaran bahwa wanita itu berasal dari benih ular. Mengapa? Karena ia tidak menguji ajarannya sendiri.

Karena itu Paulus menulis Firman Tuhan: Janganlah padamkan Roh, dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik (1 Tes 5:19-20). Paulus tidak mau kalau kita padam dalam hal karunia-karunia Roh. Harus menyala-nyala, penuh karunia. Tetapi, juga harus cermat dalam menguji.

Sebenarnya, ibu Yesus sudah memberikan contoh ”kehati-hatian” dalam hal pengalaman supranatural. Maria adalah manusia yang mengalami ”karunia Roh” yang paling luar biasa di antara semua manusia. Maria mengalami karunia ”mengandung Mesias” oleh kuasa Roh Kudus. Tetapi, untuk sampai pada pengalaman itu, Maria sangat berhati-hati  dan ”menguji” apa yang disampaikan Tuhan melalui malaikat sebagaimana dicatat oleh Lukas berikut ini:

(28) Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (29) Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (30) Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.(31) Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (32) Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, (33) dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (34) Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (35) Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (36) Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. (37) Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (38) Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:28-28)

Terlihat bahwa Maria terkejut saat mendapatkan penglihatan terbuka (open vision) itu (ayat 29). Namun, hatinya jernih sehingga ia bisa bertanya-tanya, tidak asal menerima begitu saja (ayat 29). Setelah malaikat itu berbicara, Maria tidak langsung menerima begitu saja. Maria membantah secara rasional: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”(ayat 34). Sampai di sini, Maria adalah orang percaya yang tidak menolak hal-hal supranatural, namun ia menguji lebih dulu. Setelah malaikat menjelaskan kebenaran pernyataan itu, Maria baru percaya (ayat 38).

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s