NATAL

CINTA SEGITIGA NATAL

Natal masa kini menjadi bukti telah terjadinya cinta segitiga antara spiritualitas, kebudayaan populer, dan bisnis keagamaan.

Minat keagamaan umat manusia ternyata tak pernah surut di sepanjang jaman. Yang berubah-ubah hanyalah orientasinya. Semangat keagamaan tetap bertahan dan bahkan terus berkembang di era pragmatis sekarang ini.

Dalam konteks pertumbuhan agama itu sendiri, seperti telah lama diprediksi Naisbitt sejak 1990-an, ciri kehidupan keagamaan yang bertahan dan berkembang saat ini adalah kehidupan keagamaan yang fundamentalistik dan spiritualistik. Keagamaan yang hanya bersifat terorganisir, yang diidentifikasi sebagai arus utama (mainstream) cenderung terpinggirkan. Sekte-sekte yang spiritualistik mengambil alih posisinya.

Demikian juga perayaan Natal masa kini kian diramaikan oleh kalangan Kristen yang spritualistik yang mengedepankan praksis keagamaan yang berbasis pengalaman-pengalaman emosional-spiritual. Kemeriahan agenda kegiatan spiritual ini semakin marak setelah ditangani oleh para entertainer-entrepreneur rohani.

Natal yang secara tradisional dimaknai sebagai wujud cinta kasih Tuhan yang memberikan Sang Kristus untuk menebus dosa manusia, dan cinta kasih Tuhan dan sasama bagi kaum papa, kini memicu tumbuhnya ’cinta’ yang baru. Yaitu, cinta segitiga – yang bagi sebagian kalangan dinilai sebagai ’perselingkuhan’ – antara spiritualistas, cita budaya populer (entertainment), dan jiwa bisnis (entrepreneurship).

”Spiritualtainment”

Natal jaman sekarang memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, Natal dimaknai dan bahkan semakin dihayati sebagai momen sakral. Karena itu banyak acara Natalan yang dibarengi dengan praktek-praktek rohani seperti halnya penyembuhan-penyembuhan.

Di sisi lain, ”momen” Natal menjadi ”event” hiburan (entertainment) akhir tahun. Artis-artis penghibur Natal laris manggung di sana-sini. Musik, panggung, tarian, lengkap dengan sound system dan lighting yang meriah. Para rohaniawan pun laris tampil di mana-mana bak selebritis nan kesohor.

Kegiatan Natal dapat dianalogikan dengan kegiatan olahraga. Tren masa kini adalah pencampuran kreatif antara olahraga (sport) dengan hiburan: sportaintment. Lapangan menjadi panggung hiburan. Para pemain adalah para aktornya. Gegap-gempita yang menggelora adalah adonan campur aduk antara ekspresi jiwa bertanding dan kepuasan dalam menikmati sebuah hiburan populer.

Natal juga telah menjelma menjadi sebuah ”spiritualtainment” karena merupakan campuran antara jiwa dan ekspresi keagamaan di satu sisi, dan spirit entertainment di sisi lain. Sebuah pertemuan antara agama yang idealistik dengan entertainment yang sangat pragmatis.
Pastinya hal itu sedikit banyak mereduksi nilai sakral agama sebab entertainment berbasis budaya populer yang tidak mengedepankan nilai filosofis namun bermodalkan semangat ”yang penting hepi”. Pelayanan mimbar (pulpit ministry) telah bermetamorfosa menjadi panggung pertunjukan (stage performance). Rohaniawan masa kini dituntut harus bisa tampil entertaining. Pengkotbah bertampang artis dan berpenampilan serta bergaya artislah yang laris manis. Natal yang miskin kemasan hiburan dianggap tak menarik sehingga tidak laku.

”Spiritual entrepreneurship”
Tentang umat beragama masa kini, mereka adalah bagian dari masyarakat luas yang sekarang sangat pragmatis, hedonis, dan materialistik. Agaknya agama tak selalu bisa merubah budaya dan pola perilaku mereka itu. Agama malahan menjadi tempat penyaluran pola hidup seperti itu.

Dalam hal inilah para pengusaha (kapitalis) dunia hiburan rohani (spiritual entertainer-entrepreneur) berbakat yang bermodal membidik selera pasar rohani yang seperti itu. Karena itulah mereka berlomba-lomba menawarkan produk dan event Natal yang memuaskan selera pasar tersebut. Semangat kapitalisme yang menjadi daya dorongnya menambah energi bagi tumbuhnya kewirausahaan rohani (spiritual entrepreneurship) ini.

Repotnya, beberapa dan bahkan banyak dari para pengusaha dunia hiburan rohani itu adalah para rohaniawan itu sendiri. Karena itu institusi-institusi keagamaan menjelma menjadi organisasi-organisasi bisnis hiburan rohani yang profit oriented.

Dalam kondisi demikian, para rohaniawan dan institusi-institusi keagamaan itu berkembang dalam persaingan bebas yang tidak sehat. Institusi yang besar melibas institusi yang kecil. Institusi keagamaan yang semestinya menjadi tempat pengayoman dan pembinaan umat itu hanya menjadikan umat sebagai konsumen.

Umatlah yang akhirnya menjadi korban. Mereka menjadi konsumen tak cerdas yang kerap kali termakan oleh tipu daya kaum kapitalis rohani. Mereka dibodohkan dan dikelabuhi dengan sistem penjualan produk, event, dan layanan jasa-jasa rohani yang menggiurkan, penuh iming-iming spiritual yang menghipnotis.

Sejatinya, Natal adalah wujud kasih sayang illahi. Tuhan datang ke dunia melalui penjelmaan Sang Kristus bukan untuk merebut pasar keagamaan yang sudah lama ada. Kristus tidak membisniskan pelayanan-Nya. Mujizat-mujizat yang diadakan-Nya bukan merupakan sebentuk pertunjukan hiburan yang tanpa makna. Semua yang dikerjakan itu hanyalah untuk menyelamatkan umat manusia yang menderita, yang dilakukan secara cuma-cuma berdasar cinta kasih semata.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s