PERNIKAHAN

(1) SIKLUS HIDUP VS VISI ILLAHI

Manusia hidup dalam siklus yang relatif sama: LAHIR – sekolah – kuliah – pacaran – bekerja – menikah – punya anak – kerja terus – mementaskan anak (sekolah, kerja, nikah) – pensiun – MATI. Tujuan hidup siklus seperti itu sebenarnya berpusat pada diri sendiri alias egosentrik.

Siklus hidup yang egosentrik bisa saja rohani, tetapi ya tetap egosentrik. Tuhan ditarik atau dipaksa turun masuk dalam setiap siklus itu. Tuhan dipaksa memberkati setiap siklus itu. Maka kalau anak sekolah doanya tiada lain dan tiada bukan: ”Ya Tuhan, berkati sekolah saya.” Anak mahasiswa berdoa, ”Tuhan berkati kuliah saya!” Kalau sudah bekerja, doanya, ”Tuhan berkati pekerjaan saya!” Itu saja. Doa-doa yang sangat egosentrik berbasis siklus hidup.

Pernikahan bagi orang Kristen, bahkan yang sudah rohani dan melayani Tuhan, seringkali hanyalah bersifat siklus hidup yang egosentrik seperti itu. Maka, meskipun sangat rohani, doa orang menikah hanyalah: ”Tuhan, berkati pernikahan kami. Titik. Amin!!!”

Seharusnya, seperti kata Paulus: hidup bagi Kristus, mati bagi Kristus! Implikasinya, pertama, mempersembahkan semua siklus hidup itu bagi Tuhan. Bukan Tuhan bagi siklus hidup kita. Tetapi, kita sekolah, kuliah, kerja, menikah dan seterusnya, semua untuk memuliakan Tuhan.

Kedua, hidup dengan visi illahi. Visi berbeda dengan cita-cita. Kalau cita-cita, itu tujuan hidup yang manusiawi, kepentingannya manusia, diri sendiri, basisnya siklus hidup. Kalau visi, itu adalah tujuan hidup yang diimpartasikan oleh Tuhan (George Barna, 1992).

Dan, visi itu bisa saja sangat berbeda dengan cita-cita. Contoh, Maria, sebagai perawan biasa di Yahudi, cita-citanya ya menikah dan punya anak, menjadi ibu yang baik. Tapi, Tuhan memberi visi berbeda, menjadi “ibu” Yesus. Petrus, cita-citanya menjadi penjala ikan, nelayan, kerja cari nafkah, itu saja. Tetapi, Tuhan memberi visi baru, menjadi penjala manusia.

Orang visioner berani berbeda bahkan melawan arus. Bahkan hidup tak wajar alias abnormal, tidak seperti ”manusia siklus hidup” pada umumnya. Namun punya idealisme yang dari Tuhan. Contohnya, Paulus. Kalau dilihat dari ”paradigma siklus hidup”, Paulus itu tidak wajar karena tidak menikah. Tetapi ia tidak menikah karena visi illahi.

Nah, kekristenan tidak sampai ke tataran seperti itu. Selama ini kita hanyalah menjadi ”kristen siklus hidup yang egosentris”, ditambah lagi: pragmatis, hedonis, materialistis, dan oportunistik!!!!!!!!

(2) TAK MENCARI KEHENDAK TUHAN

Banyak orang Kristen menikah tanpa mencari kehendak Tuhan. Menikah hanya karena faktor manusiawi saja, bukan karena mencari kehendak Tuhan. Orang Jawa berkata witing tresno jalaran saka kulino, maksudnya jatuh cinta terjadi karena terbiasa (terbiasa berteman, bergaul). Malahan ada pepatah lelucon Jawa mengatakan witing tresno jalaran ora ana liya, artinya jatuh cinta karena tidak ada pilihan lain. He he he.

Pernikahan kristen dan pelajaran tentang pernikahan Kristen acapkali tidak mendorong kita untuk benar-benar mencari kehendak Tuhan dalam pergumulan soal jodoh. Padahal, kalau soal kehendak Tuhan (God’s will), minimal harus mengikuti (1) God’s choice, pilihan yang dari Tuhan, (2) God’s way, cara-cara yang dari Tuhan, dan (3) God’s time, waktu dan perencanaan waktu yang dari Tuhan.

Dalam pernikahan di Kana terjadi peristiwa demikian: Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2:2-5). Hal itu menunjukkan bahwa Yesus punya waktu tersendiri (God’s time) dan cara tersendiri untuk membuat mujizat (God’s way).

(3) PRAGMATISME: MUJIZAT DARI TUHAN, SUKSES UNTUK KITA

Pernikahan Kristen dan pelajaran tentang pernikahan Kristen yang diberikan seringkali sangat pragmatis. Yang penting adalah bagaimana sukses, diberkati, berhasil, luar biasa, penuh mujizat. Untuk kesuksesan itu, kita diajarkan supaya mengundang Yesus dalam pernikahan kita.

Pelajaran itu benar tetapi egosentris sifatnya. Benar, Yesus diundang, diminta memberkati, diminta membuat mujizat. Tetapi, kepentingannya adalah ”kita”, untuk kesuksesan kita. Nah, apa bedanya dengan pergi ke dukun untuk meminta berkah? Kita menjadikan (tepatnya, memaksa) Yesus untuk datang dan memberkati kita saja.

Padahal, kalau kita lihat peristiwa pernikahan di Kana itu, mujizat itu terjadi tidak semata-mata untuk kepentingan kedua mempelai dan keluarga yang berpesta. Yesus tidak semata-mata datang untuk ”menyelamatkan acara” dari aib karena kekurangan minuman (anggur). Jika kita menafsirkannya hanya begitu, namanya pragmatis egosentris!

Tentang mujizat air jadi anggur itu, Injil Yohanes mencatat demikian: Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Yoh 2:11). Artinya, Yesus mengadakan mujizat itu untuk kepentingan kemuliaan Tuhan dan untuk kepentingan misi (supaya orang percaya kepada Kristus).

(4) DI MANAKAH YUSUF-MARIA?

Perjanjian baru dimulai dari kisah pasangan pertunangan Yusuf dan Maria. Mereka, sebelum menikah, dipakai Tuhan secara luar biasa menjadi saluran kelahiran Sang Mesias.

Bagaimana dengan pasangan-pasangan ”pra-nikah” Kristen? Apa yang mereka lakukan pasa masa pacaran dan pertunangan? Seringkali tidak ”melahirkan Kristus” tetapi melahirkan dosa dan dosa.

Yusuf dan Maria menjadi pasangan yang dipakai Tuhan karena mereka hidup dalam kesucian. Injil Matius mencatat demikian: Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus (Mat 1:22-25).

(5) DI MANAKAH IDEALISME PAULUS?

Apa yang terjadi sekarang amat sangat…amat sangat…amat sangat jauh dari idealisme rasul Paulus yang menulis demikian:

Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri….Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. (1 Kor 7:1,2, 7)

Kalau Paulus memilih tidak menikah, hal itu menunjukkan tiga hal, pertama, idealismenya sebagai seorang hamba Tuhan. Idealisme itu terlihat dari kalimat-kalimat yang ditulisnya: ” Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin” dan ” alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku”.

Kedua, Paulus tidak menikah karena ia diberi karunia untuk tidak menikah (karunia melajang/selibat bagi Tuhan). Artinya, secara implisit Paulus mengatakan bahwa soal kawin atau tidak itu adalah panggilan, karunia, pelayanan. Tidak semua diberi karunia untuk menikah, sama seperti tidak semua diberi karunia untuk melajang. Kalau orang mau menikah atau melajang, harus bertanya dan bergumul mengenai spesifikasi panggilannya. Menikah bukan soal siklus hidup. Demikian juga tidak menikah bagi Paulus bukan karena faktor ”tidak laku” atau masalah lain, tetapi karena ia dipanggil Tuhan demikian.

Ketiga, Paulus tidak menikah karena ia fokus hidup untuk Tuhan, komitmen untuk melayani total bagi Tuhan. Paulus sendiri sangat menekankan soal fokus ini, bahkan bagi mereka yang sudah menikah. Menikah itu sendiri tidak berdosa. Tetapi yang Tuhan mau adalah hidup fokus bagi Tuhan. Menurut Paulus, secara logis, hidup melajang akan lebih bisa hidup fokus bagi Tuhan. Idealisme semacam idealisme Paulus itu tidak banyak dijumpai di kalangan Kristen saat ini. Padahal, semestinya itu menjadi ”idealisme yang sangat wajar” bagi para hamba Tuhan. Dalam hal ini umat dan pemimpin Kristen perlu belajar dari komitmen total para pastor / romo Katolik.

Mengenai prinsip hidup berkomitmen total bagi Tuhan itu Paulus menulis demikian:

Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan.Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia tidak berlaku wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa. (1 Kor 7:28-36)

Paulus tidak memerintahkan supaya orang Kristen tidak menikah seperti dirinya. Ia hanya mengharapkan, menganjurkan, dan mengidealkan demikian. Kawin itu sendiri tidak dosa. Namun kalau ia mengatakan ”orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri”, hal itu menunjukkan bagaimana orang percaya harus punya fokus hidup untuk Tuhan. Memusatkan hidupnya hanya bagi Tuhan.

Bagaiana dengan hamba Tuhan masa kini? Pikirannya hanya kawin dan kawin saja. Bahkan ada yang menikah dua sampai tiga kali. Tidak punya idealisme seperti Paulus!

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s