POLITIK

GEREJA: GAPOL (GAGAP POLITIK) DAN PRAGMATIS

Pada pemilukada walikota di sebuah kota yang baru lalu, para kandidat berusaha merangkul Gereja untuk mendapatkan dukungan. Bahkan ada kandidat yang meminta difoto di bawah salib gereja. Ada pula kandidat yang meminta didoakan para pendeta.

Setiap kali berhadapan dengan masalah politik, Gereja terkadang tak jelas pandangan dan sikapnya. Di satu sisi gagap karena lemahnya pendidikan politik bagi para pemimpin dan umat. Di sisi lain, Gereja bersikap pragmatis, cari selamat sendiri, memilih tinggal di zona nyaman, bahkan oportunis dan hedonis.

Pandangan dan sikap Gereja terhadap politik harus jelas dan Alkitabiah. Pertama, Gereja harus memfokuskan diri sebagai lembaga/pemerintahan illahi (spiritual government) dengan tugas menggembalakan umat Tuhan dan memberitakan Injil bagi dunia – mandat pembaruan rohani (Mat 28:19-20). Kedua, negara (civil government) yang ideal harus dipandang sebagai hamba Tuhan yang bertugas untuk mensejahterakan rakyat (Rm 13:4) – mandat pembagunan kultural (Kej 1:28). Ketiga, Gereja dan negara berdiri sendiri-sendiri, terpisah, tidak dicampur aduk. Keempat, implikasinya, Gereja sebagai lembaga illahi tidak berpolitik praktis, misalnya tidak mendirikan parpol atau mendukung salah satu parpol (Lugo, 2009). Para pemimpin Gereja semestinya tidak berpolitik praktis karena fokusnya adalah memimpin umat. Kelima, Gereja harus mempengaruhi dunia politik dengan suara kenabiannya. Gereja menjadi pembimbing rohani tanpa berkepentingan politik praktis. Kepentingan Gereja adalah membarui kerohanian negara (civil government) sehingga – meski belum menjadi Kristen – takut akan Tuhan dan menjadi hamba Tuhan (Rom 13:4). Inilah yang disebut Calvin sebagai Cristiana Republica, yaitu pemerintahan sipil yang dikelola oleh masyarakat yang takut akan Tuhan.

Dengan pandangan seperti itu, para pemimpin Gereja harus berani aktif melakukan kontrol sosial dan menanamkan nilai-nilai Kristiani. Ketika Pemerintah korup, para pendeta harus berani mengkoreksi. Di sisi lain, jemaat Kristen (bukan pendeta/pemimpin Gereja) justru harus aktif berkarya di dunia politik (dan di berbagai bidang lainnya) dalam rangka menjadi garam dan terang dunia. Jadi, politisi Kristen semestinya adalah “misionaris di dunia politik”, bukan sekedar mencari nafkah di dunia politik, apalagi sekedar mengejar kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri.

Gereja juga harus waspada terhadap dunia politik yang sarat dengan berbagai kepentingan dan sikap rakus dalam berebut kekuasaan, termasuk dengan memakai kuasa iblis (okultisme). Karena itu, Gereja harus berdoa dan melawan roh-roh jahat yang bekerja di antara para pemimpin negara dan di antara para politisi.

Menghadapi pemilu atau pemilukada, Gereja harus berwibawa dan bersikap jelas dan tegas sebagai lembaga illahi. Harus berani berbicara. Berani menyampaikan suara kenabian. Harus cermat dan cerdas dalam menilai kualitas para kandidat pemimpin. Untuk itu Gereja harus melek politik dan peka secara rohani (berdoa, menangkap petunjuk Roh Kudus). Gereja jangan mau dikelabuhi dangan janji-janji politik, apalagi dibeli suaranya dengan kekuatan politik uang. Gereja jangan mau dimanfaatkan oleh parpol atau politisi untuk mendukung kepentingannya.

Gereja jangan golput. Namun, keikutsertaan Gereja (pemimpin dan umat) dalam pemilukada adalah dalam rangka melahirkan pemimpin-pemimpin politik yang berkualitas “hamba Tuhan” seperti kata Paulus. Gereja harus melancarkan kekuatan tawar (bargaining power) untuk mempengaruhi para kandidat supaya memiliki visi dan komitmen kehambaan, dan tetap konsisten setelah terpilih menjadi pemimpin

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s